Tuesday, November 17, 2009

Koleksi Pantun Dalam Maksud

Here we go.... Pantun la pulak... ehehehe


::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Burung jelatik sarang kedidi,
Sarang tempua sarang berjuntai;
Sungguhpun cantik sutera dipuji,
Belacu juga tahan dipakai.

Berbaju batik bujang kelana,
Duduk bermadah di tilam pandak;
Usah dipetik si bunga sena,
Warnanya indah berbau tidak.

Budak-budak mendayung perahu,
Sambil berdayung sambil bermain;
Macam mana bunga tak layu,
Embun menitis di tempat lain.

Cahaya redup menyegar padi
Ayam berkokok mengirai tuah
Jikalau hidup tidak berbudi
Umpama pokok tidak berbuah.

Seri Andalas ke kota Ambon,
Hendak mencari asam paya;
Kasih ibarat setitis embun,
Ditiup angin berderai ia.

Mengapa bising di tepi laut,
Ombak menghempas berderai-derai;
Kusangka tuan beras pulut,
Bila ditanak nasi berderai.

Nasi dingin bersayur mumbang,
Sayur dimasak dalam belanga;
Kami tak ingin melihat kumbang,
Kalau kumbang merosak bunga.

Di sana merak di sini merak,
Merak mana hendak dikepung;
Di sana hendak di sini pun hendak,
Pusing belakang terajang punggung.

Tuan ketam padi pulut,
Saya ketam padi Jawi;
Tuan berkata sedap di mulut,
Saya mendengar sakit hati.

Dari Kuala Pahang ke Kuala Lipis,
Mari dibawa angin utara;
Berhadapan saja mulutnya manis,
Paling belakang lain bicara.

Berilah saya pisau raut,
Hendak meraut bingkai tudung;
Gila apakah ikan di laut,
Mengidam umpan di kaki gunung.

Buah cempedak buah nangka,
Ditanam orang dalam di dalam kebun;
Haram tidak disangka-sangka,
Buah delima menjadi racun.

Raja di gua jalan ke teluk,
Cantik halus rupa mukanya;
Ibarat buah busuk di pokok,
Hilang manis pahit rasanya.

Meninjau berpadi masak
Batang kapas bertimpal jalan
Hati risau dibawa gelak
Bagai panas mengandung hujan

Panjanglah rumput di permatang
Disabit orang Inderagiri
Disangka panas hingga ke petang
Rupanya hujan di tengah hari

Pergi ke hutan memotong nibung
Parangnya tumpul tidak diasah
Petir berdentum kilat bersabung
Hujan tak jadi bajuku basah

Riuh rendah di tepi telok
Lihat orang duduk bertenun
Tengah malam ayam berkokok
Serasa tuan datang membangun

Terang bulan di Pulau Pinang
Anak Belanda turun ke kapal
Tengah malam bangkit terkenang
Air mata turun ke bantal.

~Bercerita Tentang Malam~

Salam... semenjak dua menjak nih... terasa macam dekat dengan sesuatu yang hmmm...caner ek? susah nak describe... jiwa halus... tersirat... ahahaha.... wutever!

sambil2 facebooking... search puisi Usman awang.. then terjumpa satu blog yg penuh dgn puisi2 , syair2..pantun2...senusantara...hmm.. i like it so much...ehehe...aku sempat lagi link kan blog tuh kat sini and... cilok puisi Ke Makam Bonda (my fav) then... this one... quite nice.. 'Bercerita Tentang Malam'.. di sebuah pantai....ehehe...



BERCERITA TENTANG MALAM

sekujur tubuh manusia
berbaring dihamparan pantai
matanya melihat ke langit
dalam kendinginan malam

roh dan jasadnya hanya di temani oleh ombak yang memukul pantai

BERCERITA TENTANG MALAM

malam itu sungguh sunyi
mungkin penghuni alam sedang
nyenyak dibuai mimpi

manusia itu masih di pantai
masih matanya melihat ke langit
di langit tiada apa
hanya ada bulan yang pusam
tidak berseri

BERCERITA LAGI TENTANG MALAM

malam ini bulan sendiri
seperti manusia itu
tidak ditemani sesiapa
malam yang indah tiada bintang di sisi bulan

apakah makna indahnya malam
jika hadir bulan, dan bintang menyepi
apa ertinya tiada bintang
dan sinar bulan tidak berseri

TENTANG MALAM

manusia di hamparan itu masih tidak berganjak
masih setia pandangannya ke langit
dia mungkin khayal sendiri
atau mungkin dia ridukan
cahaya di langit malam

MALAM

hari ini malam begitu terang
di sinari cahaya lampu neon di kota
neon yang membuatkan manusia lupa tentang bulan dan bintang

cahaya yang berwarna terang
yang manusia khayal

apa bulan dan bintang di lupakan
setelah hadirnya neon kota
lihat ke langit
perhatikan bulan dan bintang
disitu adanya ketenangan

lampu di kota digantung berwayar
bintang bulan bagaikan terapung
kuasa allah menjadikannya

CERITA MALAM

manusia tadi bangun setelah lama berbaringan
disisirkan pasir dibadan
masih sempat mendongak ke langit
mungkin untuk ucapkan selamt malam
atau mungkin berharap
esok bintang akan hadir bersama bulan

BERCERITALAH LAGI TENTANG MALAM

~penguin_kota~

Ke Makam Bonda By Usman Awang

Kami mengunjungi pusara bonda
Sunyi pagi disinari suria
Wangi berseri puspa kemboja
Menyambut kami mewakili bonda

Tegak kami di makam sepi
Lalang-lalang tinggi berdiri
Dua nisan terkapar mati
Hanya papan dimakan bumi

Dalam kenangan kami melihat
Mesra kasih bonda menatap
Sedang lena dalam rahap
Dua tangan kaku berdakap

Bibir bonda bersih lesu
Pernah dulu mengucupi dahiku
Kini kurasakan kasihnya lagi
Meski jauh dibatasi bumi

Nisan batu kami tegakkan
Tiada lagi lalang memanjang
Ada doa kami pohonkan
Air mawar kami siramkan

Senyum kemboja mengantar kami
Meninggalkan makam sepi sendiri
Damailah bonda dalam pengabadian
Insan kerdil mengadap Tuhan

Begitu bakti kami berikan
Tiada sama bonda melahirkan
Kasih bonda tiada sempadan
Kemuncak murni kemuliaan insan

~Usman Awang